Kisah pohon pengantin di Salatiga

Hasil gambar untuk pohon pengantin

Jika Anda bosan dengan wisata tradisional, bukan ide yang buruk untuk beristirahat di Desa Pulutan di Salatiga. Di tengah sawah berdiri satu pohon.

Salah satunya adalah identitas khas sawah Pulutan. Artinya, ada satu pohon di tengah sawah, pohon pengantin wanita.

Di desa Pulutan, bidang persawahan yang luas berkembang seperti karpet. Lanskap menjadi lebih indah ketika suasananya ringan, seperti Gunung Telomoyo dan Merbabu menunjukkan bentuk mereka di kejauhan. Lanskap yang sangat cocok sebagai latar belakang untuk fotografi.

Saya tidak tahu kapan pohon pernikahan tumbuh. Puryanti, warga desa Pulutan, menjelaskan bahwa dulu ada dua pohon di sana, tetapi sayangnya salah satu dari mereka telah ditebang untuk waktu yang lama.

“Pohon itu sudah ada sejak usia belia, Mas. Itu sebabnya dia disebut pohon pengantin karena dia pasangan,” kata Puryanti sambil mengeluarkan ladangnya.

Pohon pengantin wanita tumbuh dengan batang tunggal. Untuk batang pohon terbesar pengantin wanita tumbuh memutar seolah-olah itu adalah tempat alami. Nah, pada root ini, pengunjung dapat mengambil foto Instagram.

Jika Anda mengambil foto dari kejauhan, suasana indah sawah desa Pulutan menjadi jelas. Terutama ketika di sore hari rona kuning matahari secara dramatis meningkatkan pencahayaan saat memotret.

Campuran warna alami beras yang mulai menguning membuat keindahan warna-warna alami. Itu bercampur dengan sinar matahari.

Akses ke posisi mempelai wanita cukup mudah. Pengantin pohon target dikenali dalam aplikasi pencarian Google Maps.

Kendaraan roda dua dan empat juga bisa digunakan, meski penghuni sudah menyediakan tempat parkir.

Ambil saja gambar dan nikmati sore hari di tempat pohon pengantin itu, tanpa harus membayarnya. Tolong berhenti dan jaga kecantikan yang tepat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *